LED Bukan Solusi dari Segala Masalah Pencahayaan

Setelah sebelumnya sukses mengatasi masalah glare (silau) yang timbul akibat polusi cahaya yang masuk, dari pusat perbelanjaan yang berlokasi di depan restoran Barbecoa, kali ini Speirs and Major berhadapan dengan masalah energi.

Sang klien, chef Jamie Oliver dan Adam Perry Lang, sangat bersemangat untuk membuat restoran berkonsep green. Itu sebabnya, lighting architect dari Speirs and Major, Clementine Rodgers, harus memutar otak untuk menciptakan desain pencahayaan yang hemat energi, namun tetap membuat tatanannya cantik.

Poin pertama yang perlu diingat adalah karakter restoran yang ingin ditampilkan. Sang desainer interior, Tom Dixon, dan lighting designer sepakat untuk mewujudkan konsep ruang yang hangat namun tetap bersemangat (vibrant).  Untuk mewujudkan semua itu, Speirs and Major bekerja sama dengan Tom untuk memastikan bahwa desain pencahayaan yang dibuat, mampu menonjolkan elemen-elemen dekoratif menarik dari desain interior restoran.

Bagaimana kaitannya dengan penghematan energi?

Untuk mewujudkan konsep pencahayaan yang hemat energi, hampir dapat dipastikan pilihan akan jatuh pada LED. Ya, pencahayaan restoran ini didominasi oleh LED, untuk downlighting dan accent lighting, untuk menonjolkan tekstur pada dinding, dan menerangi kolom.  Sedangkan untuk menciptakan cahaya yang hangat (warm), di sekitar area dining, LED di area ini dilengkapi pula dengan warm filter.

Photo: Courtesy of James Newton

Namun untuk lampu-lampu pendant yang khusus didesain oleh Tom Dixon, Speirs and Major memilih untuk menggunakan lampu tungsten, untuk menciptakan warm glow, yang tidak bisa didapat dari LED. Akibatnya, lampu-lampu ini menyedot konsumsi energi untuk lightingsebanyak 60%.

Clementine Rodgers mencoba menjelaskan pada klien, mengenai perbandingan antara penggunaan LED dan tungsten halogen, yang pada akhirnya membuktikan LED memang masih belum bisa menandingi “hangatnya” cahaya halogen. Keputusan pun akhirnya dibuat, sang klien tidak keberatan dengan penggunaan halogen pada lampu-lampu pendant.

Beberapa pertimbangan adalah, pertama, restoran ini dilengkapi dengan dimming lighting, sehingga intensitas cahayanya dapat diatur sesuai kebutuhan dan atmosfer yang diinginkan. Kedua, lampu tungsten atau halogen memang berumur pendek, namun ini sesuai dengan manajemen restoran yang memang melakukan peremajaan bangunan setiap tiga sampai lima tahun. Jadi, semuanya memang sudah diperhitungkan dengan seksama.

Selain menggunakan sistem dimming, pencahayaan di restoran ini juga menggunakan kontrol elektronik, yang juga sangat membantu dalam usaha pengalokasian energi yang efektif. Kontrol elektronik tadi bisa diset dalam beberapa pre-programmed lighting, sehingga dengan mudah klien bisa menentukan mana lampu yang harus nyala, mana yang harus mati, sesuai kebutuhan.

Melihat tata pencahayaan dari restoran ini, bisa kita simpulkan bahwa LED bukanlah solusi dari segala permasalahan pencahayaan. Jika memang dirasa tak mungkin menggunakan LED, artinya kita harus punya perencanaan solusi lainnya.  Satu hal yang perlu diingat, hemat energi tidak selalu berarti harus mengonsumsi energi lebih sedikit. Pengalokasian energi yang efektif dan efisien, sesuai dengan kebutuhan pun merupakan sebuah tindakan penghematan energi. Bagaimana menurut Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: